Latest Post

Tampilkan postingan dengan label oret-oretanku. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label oret-oretanku. Tampilkan semua postingan

Mental Maling Di Negeriku

Written By Edy Abujamil on Sabtu, 23 November 2013 | 16.13




Assalamu’alaikum wa rahmatullah…” begitulah Imam sholat jum’at  mengakhiri sholat 2 raka’at sekaligus akhir dari rangkaian ibadah jum’at hari ini. Beberapa detik kemudian beberapa jamaah keluar meninggalkan mesjid, sebagian lagi masih bertahan untuk amalan sunnah. Setelah melaksanakan sholat rawatib ba'diyah Jum'at sayapun bergegas keluar mesjid. Di teras mesjid saya berdiri, lihat kebawah sambil tengok kanan kiri, dalam hati saya berbisik “Yah… sandal jepitku sudah laku..”.
Ini bukan pertama kali saya alami, tetapi sudah yang kesekian kalinya. Dan juga bukan hanya saya tetapi sudah lumrah. Sandal hilang, tertukar adalah pemandangan yang biasa di desaku dan bahkan mungkin di tempat lain, termasuk di Mesjid kebanggaan Indonesia “Istiqlal”.
Teringat akan cerita teman yang pernah bekerja di Jepang, dia mengatakan bahwa di Jepang jarang sekali ditemukan kasus pencurian, apalagi pencurian sandal. Jika bicara agama, warga Jepang bukanlah orang Islam. Lalu mengapa di negeri yang mayoritas Islam ini sering ditemukan kasus seperti ini.??, apakah ada yang salah dengan pengamalan agama di negeri ini ?,, padahal jelas-jelas Islam sangat melarang keras perbuatan yang merugikan orang lain, Haram hukumnya. Mungkinkah juga karena faktor kemiskinan ?....
Barangkali para pencuri sandal itu berfikir bahwa mencuri sandal bukanlah dosa yang besar, sehingga mereka dengan santainya melakukan perbuatan itu. Nilai dari sebuah sandal jika diukur dari sisi materi tidak seberapa, namun efek dari perbuatan itu yang luar biasa. Si pencuri akan terus-terusan melakukan hal ini karena lagi-lagi mereka berfikir ini bukanlah kejahatan, melainkan keisengan belaka. Alangkah sedihnya kita jika mental-mental seperti ini berkembang dan terus menular ke warga lain di negeri ini.  Lalu apa yang sebenarnya terjadi dengan masyarakat kita ??? mungkinkah ini bukti dari lemahnya iman masyarakat kita dan semakin jauhnya umat dari nilai-nilai Islam .  
“wallahu a’lam bishawab”
Abu Jamiledy (8 Nopember 2013)

Pawai di Desa Penghasil Garam

Sumenep- Pawai dalam rangka memperingati HUT RI ke-68 bagi masyarakat Pinggirpapas dan Karanganyar tahun ini terasa istimewah. Setelah beberapa tahun tidak mengadakan pawai kali ini mereka kembali melaksanakannya.
Pawai tanggal 31 Agustus 2013 barangkali bisa dibilang yang terbesar sepanjang sejarah pawai di daerah ini. Yang berbeda tahun ini yaitu dengan melibatkan ribuan peserta dari dua desa. Pawai kali ini juga melibatkan puluhan ekor kuda, drum band, serta musik tradisional ul gaul dan saronen.

Menariknya lagi kali ini Kepala Desa Pinggirpapas ikut dalam rombongan pawai dengan menunggang kuda. Selain itu keesokan harinya panitia yang tergabung dalam organisasi GP2K (Gerakan Pemuda Peduli Karanganyar) mengadakan JJS dengan hadiah yang tidak tanggung-tanggung yaitu 1 unit sepeda motor.
Masyarakat sepertinya merasa terhibur dengan acara ini, meskipun tidak semua masyarakat bisa ikut dan menyaksikan acara ini. Seperti diketahui hampir separuh atau mungkin lebih masyarakat di dua desa ini eksodus keluar daerah sebagai pekerja garam musiman dan baru kembali setelah musim kemarau berakhir.
Dibalik kemeriahan ini semoga masyarakat juga peduli dan sadar akan arti kemerdekaan dan bagaimana melanjutkan perjuangan para pendiri negeri ini. Perjuangan saat ini bukanlah melawan Belanda, Jepang atau Sekutu. Tapi perjuangan dimasa kini adalah berjuang melawan kebodohan, berjuang melawan kemiskinan, berjuang melawan ketidak adilan dan masih banyak perjuangan yg lain. (AJ)

Nasib Pendidikan Anak Di Bumi Yang Kaya

Sumenep- Pinggirpapas adalah sebuah desa yang terletak  diujung paling timur  Pulau Madura.  Jumlah penduduknya lumayan banyak yaitu + 4.000 jiwa. Di musim kemarau hampir separuh atau bahkan mungkin lebih penduduknya eksodus ke luar daerah. Daerah tujuan mereka adalah 4 kabupaten di Madura dan sebagian wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.
Tujuan mereka tak lain adalah mencari penghidupan yang layak  sebagai pekerja garam musiman di lahan-lahan milik  warga luar daerah. Di Surabaya mereka tersebar di berbagai lokasi, namun yang paling banyak mereka dapat kita jumpai di daerah Greges, Tandes, Manukan, Sememi, Tambak langon, Tambak Osowilangon, Babat Jerawat, Pakal, Tambakdono dan  disekitar GOR dan TPA.Mereka berangkat awal musim kemarau  yaitu sekitar bulan Mei-Juni, dan baru kembali setelah musim kemarau berakhir yaitu bulan Nopember atau Desember, Jika dihitung dalam hitungan bulan kurang lebih mereka meninggalkan kampung halamannya selama 6 bulan. Ini berarti mereka tinggal di Madura hanya setengah tahun.Ironisnya mereka bekerja dengan membawa serta keluarga termasuk anak-anak. Anak-anak yang ikut serta rata-rata usianya 0 – 17 tahun. Anak-anak ini bukannya tidak sekolah, mereka tetap sekolah walaupun hanya pada musim hujan saja. Bagi yang lahannya dekat dengan pemukiman biasanya orang tuanya menyekolahkan anaknya di daerah tujuan, Namun ini jumlahnya sedikit sekali hanya beberapa anak dari ratusan anak. Jika kita mau melihat dan merasakan betapa ilmu yang mereka dapatkan dibangku sekolah selama setengah tahun sungguh tidak maksimal, Wajar saja jika rata-rata nilai raport mereka tidak menunjukkan prestasi yang diharapkan.Sungguh memprihatinkan nasib pendidikan anak-anak ini, jika kemarau datang mereka harus rela meninggalkan bangku sekolahnya dan ikut serta orang tuanya. Di rantau mereka tinggal di alam terbuka dan hanya tinggal di sebuah gubuk kecil yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter dengan kondisi yang memprihatinkan.Siang hari aktifitas mereka adalah bermain dengan alam dan panasnya matahari di musin kemarau. Sementara pada malam hari mereka harus berjuang melawan dinginnya udara malam dan gigitan nyamuk liar.Bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP atau SMA, mereka tetap ikut orang tuanya. Cuma bedanya mereka bisa membantu pekerjaan orang tuanya. Namun pada malam harinya sebagian dari mereka keluyuran ke tempat-tempat keramaian bahkan ke tempat hiburan. Alasannya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja membantu orang tuanya.Lambat laun mereka sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kerasnya hidup di kota besar seperti Surabaya termasuk dalam kebiasaan yang kurang baik. Sebut saja misalkan Tawuran, Tempat hiburan malam, minuman keras bahkan sampai ke lokalisasi mereka datangi. Celakanya ketika mereka kembali ke kampung halamannya beberapa diantara mereka menularkan “ilmu”nya kepada teman-teman di desanya. Ketika ada keramaian misalnya sesekali “alumni” Surabaya ini  yang menjadi koordinator untuk urusan tawuran dan mabuk-mabukan.
Dengan kondisi ini adakah pihak yang peduli ....???!Sumenep daerah yang kaya , sumber alamnya melimpah, dan di Pinggirpapas ada BUMN ( PT.Garam ) , Jika memang terpaksa mereka harus keluar daerah untuk mencari penghidupan layak, paling tidak ada kepedulian dari berbagai pihak untuk memperhatikan kondisi pendidikan anak-anak ini.
Lalu masa depan seperti apa yang kita harapkan dari kondisi pendidikan anak yang seperti ini..???  Benarkah kita sudah Merdeka..???? Oh.. Indonesiaku……..
Sumenep, 26 Agustus 2013
 (Abu Jamiledy)

Penyebab Rusaknya Jalan Karanganyar Pinggirpapas



Karanganyar- Seperti diketahui jalan sepanjang +6 KM yang membentang dari Marengan hingga Pinggirpapas banyak mengalami kerusakan. Bahkan di beberapa titik sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Bina Marga nampaknya juga sudah menyadari nya, hal ini dibuktikan dengan adanya papan di pinggir jalan yang bertuliskan “ HATI-HATI JALAN RUSAK” yang dipasang oleh pihak Bina Marga.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab rusaknya jalan di kawasan ini. Antara lain adalah tidak sesuainya antara jalan dengan beban muatan truk yang biasa mengangkut garam di wilayah ini setiap harinya, baik garam rakyat maupun garam milik BUMN yang ada disitu.
Dan yang paling terasa dan dapat langsung dilihat kerusakannya adalah Alat berat milik BUMN yang sesekali melewati jalan Karanganyar Pinggirpapas tanpa menggunakan alat pengaman . Seperti yang dapat disaksikan oleh masyarakat pada tanggal 10 Oktober 2013 di Jalan Raya Karanganyar Pinggirpapas.
Menurut masyarakat setempat hal ini terjadi bukan satu atau dua kali tetapi sudah kesekian kalinya. Sebenarnya masyarakat merasa keberatan , namun apa daya mereka hanya bisa menggerutu tanpa bisa berbuat sesuatu, bahkan ada yang mengatakan alat berat tersebut adalah “Monster Jalan”,”Pemangsa Aspal” .
Mereka berharap suatu saat ada orang atau pihak yang bisa menyampaikan dan memperjuangkan agar alat berat tidak seenaknya saja melintasi jalan yang merupakan fasilitas umum dan juga memperjuangkan agar jalan yang mereka lalui diperbaiki dengan memperhatikan standart kelayakan.(AJ)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. suara pinggirpapas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger