Liputan6.com, Sumenep: Tembang Layang Jati Suara
Layang Sempurnaning Sembah mengalun pada suatu malam di Desa Pinggir
Papas, Kabupaten Sumenep, Madura, Jawa Timur. Nyanyian ini mengingatkan
perjuangan seorang pangeran bernama Anggosuto, yang telah membawa
perubahan besar yang membuat Madura terkenal sebagai Pulau Garam.Konon,
di pulau terapung Pinggir Papas, Pangeran Anggosuto memulai
kehidupannya dan menemukan butiran kristal dari air laut yang telah
dibiarkannya berminggu-minggu. Butiran kristal yang kemudian disebut
garam itu kemudian diolah sang pangeran sehingga menjadi sumber
penghidupan. Inilah yang kemudian mengawali berdirinya tambak-tambak
garam di Pulau Madura.
Waktu pun terus bergulir. Tradisi pembuatan
garam rakyat terus dilakukan turun-temurun oleh warga Desa Pinggir
Papas. Alhasil, ratusan kilogram garam setiap hari diproduksi para
petani garam di desa ini. Dengan adanya mata pencaharian ini, warga
Pinggir Papas bertambah makmur dan hidup dengan prestise material yang
tinggi. Buktinya, haji-haji garam banyak bermunculan dan sarjana-sarjana
yang memperoleh biaya pendidikan dari hasil garam lahir setiap tahun.
Meski
kini Pinggir Papas telah berubah menjadi sebuah desa yang besar,
jasa-jasa Pangeran Anggosuto yang telah membuka cakrawala kehidupan
warga tidak dilupakan. Dan setiap tahun menjelang musim panen, warga
Pinggir Papas memperingati jasa Anggosuto dalam sebuah upacara yang
disebut Upacara Nyadar.
Sehari sebelum Upacara Nyadar, warga mulai sibuk dengan memotong ayam untuk sesaji dan mempersiapkan
panjeng
sebagai tempat sesajen serta menaruh berbagai perlengkapan sesaji lain
di dalam panjeng. Keesokan harinya, kesibukan warga yang akan berangkat
melaksanakan Nyadar sudah terlihat sejak dini hari. Dengan memikul
tanggik
sebagai tempat sesaji, mereka beriringan menuju ke makam Anggosuto.
Seperti tradisi sebelumnya, tanggik tersebut dibawa terlebih dahulu ke
lokasi sekitar makam Anggosuto, yang terletak di seberang laut di
daratan Pulau Madura di Desa Kebun Dadap.
Seiring dengan itu, di
sebuah sudut desa terlihat sekelompok orang yang biasa memimpin upacara
berkumpul di rumah Mbah Kassa, sesepuh yang juga keturunan Anggasuto.
Dari rumah itu, para sesepuh ini berjalan sejauh enam kilometer menuju
pemakaman Anggosuto. Dalam perjalanan itu, sebuah pantangan mesti
dilakukan para sesepuh, yakni menggunakan alas kaki.
Keberangkatan
para sesepuh ini menandakan diperbolehkannya warga yang lain untuk
menyusul. Sinar matahari terus beranjak dan tanpa terasa sore telah
tiba. Warga yang akan ikut melaksanakan Nyadar terus berdatangan. Tak
lupa mereka membawa kembang dan menyerahkannya kepada istri para
sesepuh. Saat kembang-kembang telah disiapkan dan para sesepuh sudah
berkumpul, waktu ziarah pun tiba.
Di depan pintu makam, warga
berdesakan untuk bisa masuk terlebih dahulu ke makam. Akibatnya,
kegaduhan terjadi saat juru kunci membuka pintu masuk makam. Adanya
kepercayaan bahwa orang yang pertama masuk makam akan lebih dahulu
mendapat berkah juga membuat suasana menjadi tambah kacau. Untungnya,
kekacauan tak berlangsung lama. Warga kembali duduk dalam posisi tertib
ketika doa dan tahlil mulai dibacakan. Selain makam Anggosuto dan
istrinya, di kompleks pemakaman itu juga terdapat makam kerabat seperti
Syekh Kabasa dan istri, Syekh Bangsa dan istri serta Mbah Dukun dan
istri.
Entah bagaimana awalnya, keyakinan membacakan doa-doa bagi
Anggosuto dan kerabatnya itu kemudian beralih menjadi sebuah ritual
mistis. Semangat untuk meneladani Anggosuto yang telah membuka cakrawala
kehidupan dengan memperkenalkan garam sebagai sumber kehidupan itu
mulai diartikan beberapa warga sebagai sebuah ritual untuk meminta
berkah. Bahkan, ada pula yang beranggapan ziarah ini akan memberi
kekuatan mistis agar kehidupan mereka menjadi lebih baik di kemudian
hari. Mereka juga meyakini bedak yang telah dicampur air dan diborehkan
di belakang telinga atau dahi saat upacara berlangsung bisa menjadi
tameng agar terhindar dari gangguan mahluk halus.
Menjelang
matahari terbenam, peserta upacara mulai meninggalkan situs pemakaman
Anggosuto. Namun, Upacara Nyadar belum berakhir. Malam harinya, warga
Pinggir Papas masih harus menginap di sekitar makam Anggosuto untuk
meneruskan prosesi lanjutan esok hari yang menjadi prosesi inti dari
Upacara Nyadar, sebuah prosesi yang disebut sebagai Upacara Kaoman.
Seusai
salat Subuh keesokan harinya, prosesi Kaoman pun dimulai. Ratusan
tanggik berisi nasi tumpeng ditata rapi di sekitar makam. Penempatan
tanggik disesuaikan dengan kelompok masing-masing. Dalam prosesi ini,
ada dua kelompok sesepuh yang berbeda pendapat dalam menjalankan ritual
Nyadar, yakni kelompok hitam dan putih yang dikenali dari ciri baju
mereka.
Munculnya dua kelompok ini didasarkan polemik yang terjadi
pada masa Kerajaan Sumenep. Konon, Raja Sumenep pernah melarang Upacara
Nyadar ini. Tapi, kemudian timbul beberapa bencana penyakit di Sumenep.
Atas nasihat para sesepuh kerajaan, Upacara Nyadar diadakan lagi. Dari
sinilah kemudian muncul dua kelompok yang berbeda. Kelompok putih
mewakili pemikiran atau tata cara lama seperti sebelum Nyadar dilarang
dan kelompok hitam mewakili tata cara baru. Meski demikian, bentrokan
tak pernah terjadi di antara dua kelompok ini.
Dengan kesadaran
masing-masing, mereka pun mengatur agar Nyadar bisa dilakukan
bersama-sama. Saat matahari naik sepenggalan, muncul empat orang yang
berbaju warna-warni yang disebut
Racok Saebu. Mereka bertugas menghitung jumlah panjeng yang ada dan melaporkannya ke pimpinan sesepuh yang disebut
Juk Kae.
Puncak
Nyadar pun dimulai. Para sesepuh berbaju hitam membuka langkah ritual
dengan melakukan ziarah ke makam Anggosuto. Dua senjata warisan sang
pangeran yang berupa keris dan kodik juga ikut dikeluarkan untuk menjaga
di depan pintu makam. Tak lama kemudian giliran sesepuh berbaju putih
masuk dan berdoa di makam.
Seusai ziarah dan pembacaan doa,
kebersamaan antarkelompok pun dibangun. Tanggik berisi makanan dibuka
dan doa kembali dilantunkan. Selanjutnya, mereka bersama-sama menyantap
makanan dalam tanggik itu. Namun, warga tidak menghabiskan seluruh
makanan. Sebagian lainnya dibawa pulang untuk dibagikan kepada fakir
miskin, para anak yatim, dan tetangga yang tidak bisa mengikuti Nyadar.
Lengkap
sudah warga Pinggir Papas menumpahkan kerinduan untuk mengucap syukur
kepada sang penguasa Jagad Raya, yang telah memberi inspirasi kepada
Anggosuto untuk membuka jalan kehidupan yang lebih baik di Pinggir
Papas. Esok hari, mereka akan kembali menyusuri ladang-ladang garam
untuk membawa kehidupan ke arah yang lebih baik seperti yang diharapkan
sang Pangeran Anggosuto.(PIN/Tim Potret SCTV)
sumber : http://news.liputan6.com