Latest Post

Nasib Pendidikan Anak Di Bumi Yang Kaya

Written By Edy Abujamil on Sabtu, 23 November 2013 | 15.35

Sumenep- Pinggirpapas adalah sebuah desa yang terletak  diujung paling timur  Pulau Madura.  Jumlah penduduknya lumayan banyak yaitu + 4.000 jiwa. Di musim kemarau hampir separuh atau bahkan mungkin lebih penduduknya eksodus ke luar daerah. Daerah tujuan mereka adalah 4 kabupaten di Madura dan sebagian wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Sidoarjo dan Pasuruan.
Tujuan mereka tak lain adalah mencari penghidupan yang layak  sebagai pekerja garam musiman di lahan-lahan milik  warga luar daerah. Di Surabaya mereka tersebar di berbagai lokasi, namun yang paling banyak mereka dapat kita jumpai di daerah Greges, Tandes, Manukan, Sememi, Tambak langon, Tambak Osowilangon, Babat Jerawat, Pakal, Tambakdono dan  disekitar GOR dan TPA.Mereka berangkat awal musim kemarau  yaitu sekitar bulan Mei-Juni, dan baru kembali setelah musim kemarau berakhir yaitu bulan Nopember atau Desember, Jika dihitung dalam hitungan bulan kurang lebih mereka meninggalkan kampung halamannya selama 6 bulan. Ini berarti mereka tinggal di Madura hanya setengah tahun.Ironisnya mereka bekerja dengan membawa serta keluarga termasuk anak-anak. Anak-anak yang ikut serta rata-rata usianya 0 – 17 tahun. Anak-anak ini bukannya tidak sekolah, mereka tetap sekolah walaupun hanya pada musim hujan saja. Bagi yang lahannya dekat dengan pemukiman biasanya orang tuanya menyekolahkan anaknya di daerah tujuan, Namun ini jumlahnya sedikit sekali hanya beberapa anak dari ratusan anak. Jika kita mau melihat dan merasakan betapa ilmu yang mereka dapatkan dibangku sekolah selama setengah tahun sungguh tidak maksimal, Wajar saja jika rata-rata nilai raport mereka tidak menunjukkan prestasi yang diharapkan.Sungguh memprihatinkan nasib pendidikan anak-anak ini, jika kemarau datang mereka harus rela meninggalkan bangku sekolahnya dan ikut serta orang tuanya. Di rantau mereka tinggal di alam terbuka dan hanya tinggal di sebuah gubuk kecil yang berukuran kira-kira 3 x 4 meter dengan kondisi yang memprihatinkan.Siang hari aktifitas mereka adalah bermain dengan alam dan panasnya matahari di musin kemarau. Sementara pada malam hari mereka harus berjuang melawan dinginnya udara malam dan gigitan nyamuk liar.Bagi mereka yang tidak melanjutkan pendidikan ke tingkat SMP atau SMA, mereka tetap ikut orang tuanya. Cuma bedanya mereka bisa membantu pekerjaan orang tuanya. Namun pada malam harinya sebagian dari mereka keluyuran ke tempat-tempat keramaian bahkan ke tempat hiburan. Alasannya untuk menghilangkan penat setelah seharian bekerja membantu orang tuanya.Lambat laun mereka sudah bisa beradaptasi dengan lingkungan dan kerasnya hidup di kota besar seperti Surabaya termasuk dalam kebiasaan yang kurang baik. Sebut saja misalkan Tawuran, Tempat hiburan malam, minuman keras bahkan sampai ke lokalisasi mereka datangi. Celakanya ketika mereka kembali ke kampung halamannya beberapa diantara mereka menularkan “ilmu”nya kepada teman-teman di desanya. Ketika ada keramaian misalnya sesekali “alumni” Surabaya ini  yang menjadi koordinator untuk urusan tawuran dan mabuk-mabukan.
Dengan kondisi ini adakah pihak yang peduli ....???!Sumenep daerah yang kaya , sumber alamnya melimpah, dan di Pinggirpapas ada BUMN ( PT.Garam ) , Jika memang terpaksa mereka harus keluar daerah untuk mencari penghidupan layak, paling tidak ada kepedulian dari berbagai pihak untuk memperhatikan kondisi pendidikan anak-anak ini.
Lalu masa depan seperti apa yang kita harapkan dari kondisi pendidikan anak yang seperti ini..???  Benarkah kita sudah Merdeka..???? Oh.. Indonesiaku……..
Sumenep, 26 Agustus 2013
 (Abu Jamiledy)

Jalan Sering Banjir, Warga Kalianget Datangi DPRD


  KBRN, Sumenep ; Sejumlah Warga Desa Karang Anyar dan Pinggir Papas Kecamatan Kalianget mendatangi DPRD Sumenep, Senin (3/6/2013) siang.
Mereka meminta Dewan menfasilitasi tuntutannya mengenai perbaikan akses jalan diwilayahnya yang kerap kali terendam banjir. Dalam audiensinya yang diterima Komisi C DPRD, warga dari dua desa itu menyampaikan tuntutannya terkait infrastruktur jalan yang dikeluhkan.

”Akses jalan yang menghubungkan Desa Karanganyar dan Pinggir Papas dengan Marengan Laok itu berdampingan dengan sungai. Apabila air pasang dan hujan deras meluap ke jalan, hingga akhirnya terjadinya banjir,” ungkap tokoh masyarakat Desa Pinggir Papas, Mahbub Ilahi di Kantor DPRD.
Mahbub menuturkan, selain rusak parah, kondisi jalan sepanjang 100 meter itu berada didataran rendah, bahkan berdampingan dengan sungai. Akibat kondisi tersebut, akses jalan warga itu rawan banjir, sehingga kerap kali tidak bisa dilewati khususnya bagi kuli angkut, buruh garam termasuk pelajar yang biasa melewati jalan tersebut.
”Makanya kami meminta agar Pemerintah daerah segera melakukan perbaikan sekaligus peninggihan jalan agar akses jalan warga di dua desa itu lebih lancar. Sebab jelas sangat mengganggu terhadap perekonomian masyarakat,” ujarnya.
Kepala Desa Karanganyar, Suharto Hadi usai audiensinya dengan Komisi C menambahkan, infrastruktur jalan Didesanya yang dikeluhkan warga sering diperbaiki. Namun, karena tidak ada peninggian, mudah rusak karena kerap kali terendam banjir.
Pihaknya meminta Komisi C mengakomudir keluhan warga, medesak instansi terkait seperti Dinas Pu Bina Marga termasuk Pu Pengairan melakukan perbaikan sekaligus peninggihan jalan.
”Kami sudah sampaikan, bahkan bahwa kondisinya berada dibawah sungai, sehingga kalau tidak ditinggikan akan banjir,” kata Suharto Hadi.
Sementara itu, Ketua Komisi C DPRD Sumenep, Fajar Hari Ponto mengaku siap mengakomudir tuntutan warga Desa Karang Anyar dan Pinggir Papas Kalianget.
“Komisi C masih perlu melakukan pengecekan ke lapangan sekaligus meminta tim tekhnis melakukan kajian mengenai penyebab terjadinya banjir,” pungkas Politisi asal Golkar ini. (Faisal/WDA)

sumber : rri.co.id

Penyebab Rusaknya Jalan Karanganyar Pinggirpapas



Karanganyar- Seperti diketahui jalan sepanjang +6 KM yang membentang dari Marengan hingga Pinggirpapas banyak mengalami kerusakan. Bahkan di beberapa titik sudah sampai pada taraf yang mengkhawatirkan. Bina Marga nampaknya juga sudah menyadari nya, hal ini dibuktikan dengan adanya papan di pinggir jalan yang bertuliskan “ HATI-HATI JALAN RUSAK” yang dipasang oleh pihak Bina Marga.

Ada beberapa faktor yang menjadi penyebab rusaknya jalan di kawasan ini. Antara lain adalah tidak sesuainya antara jalan dengan beban muatan truk yang biasa mengangkut garam di wilayah ini setiap harinya, baik garam rakyat maupun garam milik BUMN yang ada disitu.
Dan yang paling terasa dan dapat langsung dilihat kerusakannya adalah Alat berat milik BUMN yang sesekali melewati jalan Karanganyar Pinggirpapas tanpa menggunakan alat pengaman . Seperti yang dapat disaksikan oleh masyarakat pada tanggal 10 Oktober 2013 di Jalan Raya Karanganyar Pinggirpapas.
Menurut masyarakat setempat hal ini terjadi bukan satu atau dua kali tetapi sudah kesekian kalinya. Sebenarnya masyarakat merasa keberatan , namun apa daya mereka hanya bisa menggerutu tanpa bisa berbuat sesuatu, bahkan ada yang mengatakan alat berat tersebut adalah “Monster Jalan”,”Pemangsa Aspal” .
Mereka berharap suatu saat ada orang atau pihak yang bisa menyampaikan dan memperjuangkan agar alat berat tidak seenaknya saja melintasi jalan yang merupakan fasilitas umum dan juga memperjuangkan agar jalan yang mereka lalui diperbaiki dengan memperhatikan standart kelayakan.(AJ)

Santri Desak PT Garam Pedulikan Lingkungan Kumuh

Written By Edy Abujamil on Rabu, 20 November 2013 | 02.43


Santri Desak PT Garam Pedulikan Lingkungan Kumuh
Saluran air PT Garam di belakang Puskesmas dan rumah penduduk di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget
Salamet Wahedi - SantriNews.com
Sumenep – Kerusakan lingkungan ternyata tidak hanya menjadi isu krusial kota-kota besar. Pelosok desa yang mulai menggeliat juga dihadapkan pada persoalan yang sama.
Misalnya di Desa Pinggir Papas, Kecamatan Kalianget. Ia menjadi salah satu desa yang mulai dijangkiti kekumuhan. Serakan sampah tampak memenuhi ruang-ruang publik. Ironisnya, PT Garam sebagai salah satu BUMN yang beroperasi di desa tersebut seolah tak memiliki kepedulian.
Persoalan ini mendapat perhatian serius dari Forum Masyarakat Santri (FMS). Edi Susanto, ketua FMS, mengungkapkan bahwa kekumuhan ini merupakan salah satu bentuk apatisme masyarakat terhadap lingkungan.
“Parahnya lagi, PT Garam, BUMN yang beroperasi di sini tidak mau peduli, “ beber dia kepada Santrinews.com, saat ditemui di kediamannya, Senin, 30 September 2013.
Ia menjelaskan, tumpukan sampah yang tak terurus itu juga memenuhi salah satu saluran air PT Garam yang melintasi Desa Pinggir Papas. Akibatnya, ketika PT Garam melakukan pompa air ke area lahan garam, genangan airnya sampai ke rumah penduduk.
“Ini tidak bisa dibiarkan berlarut-larut. Lima sampai sepuluh tahun ke depan, Pinggir Papas bisa banjir seperti Jakarta. Apalagi saluran air PT Garam yang terus mengalami pendangkalan,” tandasnya dengan nada penuh sesal. (met/onk). 
sumber  : http://www.santrinews.com/Akhbar/Daerah/722/Santri-Desak-PT-Garam-Pedulikan-Lingkungan-Kumuh

“Pertarungan” di bumi garam

Sumenep -PEMILU sudah tinggal beberapa bulan lagi, berbagai taktik dan strategi akan dan bahkan sudah dilakukan oleh beberapa calon legeslatif. Tak ketinggalan juga para calon di wilayah Kabupaten Sumenep yang terbagi dalam VII Dapil ( Daerah Pemilihan ). Bagi masyarakat yang tinggal di wilayah Dapil I ( Kec.Kota, Kalinget, Talango,Manding, Batuan) suasana meriah sudah mulai dirasakan. Disudut-sudut kota bahkan di pinggiran desa sudah nampak gambar para Calon yang terpasang di kanan kiri jalan. 
Dengan berbagai macam janji dan slogan mereka mencoba menarik simpati kontestuen, hal ini wajar dan lumrah menjelang pesta rakyat di negeri ini. Desa Pinggirpapas dan Karanganyar (bumi garam) kebetulan di Pemilu yang akan datang agak sedikit istimewa. Istimewa karena di Pemilu tahun depan akan di ikuti oleh beberapa calon yang kebetulan berasal dari bumi garam sendiri. Kalau di Pemilu sebelumnya hanya ada 3 calon yang berasal dari daerah ini, kali ini tidak tanggung-tanggung, ada 4 orang calon Legislatif yang berasal dari 2 desa ini akan memperebutkan kurang lebih 5.800 suara dari jumlah hak pilih ( Pinggirpapas dan Karanganyar). Jumlah yang cukup signifikan. 
Para calon itu adalah H. Asmuni (Tokoh Masyarakat/Mantan Kades) dan Abdurrahman Taufik (Pengusaha Konveksi), keduanya adalah warga Desa Karanganyar. Serta H. Mahbub Ilahi (Tokoh Agama)dan Abdurrahman ( Ketua BPD ), keduanya berasal dari Desa Pinggirpapas. Bagi warga 2 desa ini mereka bukanlah orang asing. Para calon ini sudah sangat dikenal dan dekat dengan masyarakat setempat. 
Berikut sedikit informasi tentang 4 calon berdasarkan kendaraan politik dan nomor urutnya:
1.       1. ABDURRAHMAN                              Partai Kebangkitan Bangsa(PKB)  No.Urut. 2
2.       2. H. ASMUNI                                         PDI Perjuangan (PDIP)                       No.Urut. 2
3.       3. H. MAHBUB ILAHI,Bsc.            GERINDRA                                                No.Urut. 5
4.       4. ABDURRAHMAN TAUFIK              Partai Amanat Nasional (PAN)        No.Urut. 9
4 orang ini akan bertarung dan berjuang keras untuk memperebutkan suara di bumi garam. Tentu saja mereka juga harus rela berbagi sedikit suara untuk calon dari luar desa. Hal ini mungkin saja terjadi mengingat setiap calon pasti berusaha masuk kemana saja demi mendapatkan dukungan. Ini terbukti dengan dipasangnya gambar calon dari salah satu parpol yang berasal dari luar desa. 
Tentu saja dibutuhkan taktik dan strategi yang bagus untuk meraih simpati warga. Namun  apapun latar belakang politiknya tentunya rakyat 2 desa ini berharap yang terbaik untuk desa mereka. Mereka berharap calon yang terpilih kelak bisa memperjuangkan hak-hak rakyat di 2 desa ini. 
(AJ)
( 1 Muharram 1435 H.)
 
Support : Creating Website | Johny Template | Mas Template
Copyright © 2011. suara pinggirpapas - All Rights Reserved
Template Created by Creating Website
Proudly powered by Blogger